Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia, 1945-1950 merupakan program penelitian bersama tiga lembaga penelitian Belanda, yaitu Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV), Institut Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH), dan Institut Belanda untuk Studi Perang, Holocaust, dan Genosida (NIOD).

Latar Belakang

Minat untuk menggali lebih dalam ihwal perang yang dilancarkan Belanda kepada Indonesia pada periode 1945-1949 semakin beranjak naik dalam beberapa tahun terakhir. Tuntutan hukum yang dilayangkan terhadap negara Belanda tahun 2008 oleh keluarga korban Indonesia, dengan dukungan penuh dari Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB, sebuah komite yang dibentuk untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan utang kehormatan Belanda) yang dikepalai Jeffry Pondaag dan pengacara Liesbeth Zegveld, memainkan peran kunci dalam meningkatnya minat tersebut. Di samping itu, jurnalis investigasi, pembuat film dokumenter dan peneliti akademis juga turut memainkan peran. Dalam buku De brandende kampung van generaal Spoor, sejarawan Rémy Limpach, misalnya, menunjukkan bahwa pasukan Belanda secara sistematis menggunakan kekerasan yang di luar batas.

Buku tersebut, yang dirampungkan Limpach pada September 2016, mendorong pemerintah Belanda untuk kemudian memberikan dukungan finansial bagi terselenggaranya sebuah program penelitian yang mandiri dan mendalam tentang perang di Indonesia. Dengan demikian, pemerintah Belanda membuka diri terhadap beragam tentangan terhadap pandangan resmi pemerintah, yang pertama kali dirumuskan pada 1969, bahwa selama Perang Kemerdekaan Indonesia, tidak pernah terjadi kekejaman sistematis yang dilancarkan oleh pihak tentara Belanda; dan bahwa bahwa tindakan-tindakan yang diambil oleh angkatan bersenjata Belanda secara keseluruhan selama perang tersebut telah sesuai dengan aturan.

Fokus terhadap tindak kekerasan

Program penelitian yang terdiri dari delapan sub-program ini bertujuan untuk menawarkan jawaban akademis atas pertanyaan yang berkaitan dengan sifat, penyebab, lingkup, dan dampak kekerasan yang dilakukan oleh Belanda yang dilihat dalam bingkai konteks politik, sosial dan internasional yang lebih luas. Program penelitian ini tidak bertujuan untuk mengkaji seluruh sejarah kolonialisme Belanda berikut kekerasan serta rasisme yang melekat padanya. Andai cakupannya adalah sebesar itu, maka dibutuhkan rancangan program penelitian yang berbeda. Tak perlu dibantah lagi bahwa memang masyarakat pra-perang, yang diciptakan dalam ketimpangan, merupakan latar yang paling penting dan oleh karenanya merupakan faktor penting agar dapat memahami aneka tindak kekerasan yang terjadi kemudian.

Pertanyaan sentral

Pertanyaan utama program tersebut menyangkut dinamika peristiwa yang mengitari kekerasan yang terjadi semenjak dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 (periode genting yang dimulai dari Agustus 1945 sampai dengan awal tahun 1946) sampai dengan akhir Perang Kemerdekaan pada tahun 1949. Aspek-aspek militer, politis, dan yuridis, serta konsekuensi yang ditanggung beragam kelompok masyarakat, akan dibahas secara terperinci. Dampak politik dan sosial di Belanda selepas perang pun akan turut dibahas.Anda dapat membaca lebih lanjut tentang desain riset kami pada tautan berikut.

Perspektif

Beberapa subprogram penelitian akan melibat kerja sama dengan akademisi dari Indonesia dan negara lain [tautan]. Tujuan kerja sama ini adalah untuk menempa sejarah perang di Indonesia berikut dampaknya terhadap masyarakat Indonesia pada periode 1945-1950 dalam rupa yang lebih jelas sehingga dapat terbebas dari cara pandang dan terminologi Eurosentris tradisional [tautan], selain juga untuk memperkuat pengembangan kajian postkolonial. Kajian-kajian pada subprogram tersebut membahas ihwal dampak perang pada tingkat lokal dan regional di Indonesia dan menyajikan perbandingan dengan perang-perang kemerdekaan di negara lain pada kurun waktu tersebut.

Saksi & Rekan Sezaman

Subprogram Saksi & Rekan Sezaman membuka ruang bagi tersampaikanya kisah-kisah pribadi dari Belanda dan Indonesia. Kami mengundang para pelaku sejarah yang pernah mengecap periode 1945-1949 atau yang memiliki hal istimewa berkait dengan periode tersebut untuk berbagi kisah dengan kami, yang kemudian akan kami catat dan bagikan kepada generasi mendatang. Kisah-kisah tersebut bisa Anda bagikan melalui surat yang dikirimkan kepada penanggung jawab subprogram ini, atau melalui wawancara, atau dengan membagikan dokumen-dokumen pribadi seperti buku harian atau catatan perjalanan.

Mengakar dalam masyarakat

Tiga lembaga yang bertanggung jawab atas penelitian ini meyakini bahwa program penelitian ini harus mengakar kuat dalam dunia akademik dan masyarakat. Oleh sebab itu, ketiga lembaga tersebut membentuk komite penasihat akademik dan kelompok masyarakat untuk memberi saran atau umpan balik di Belanda [tautan]. Selain itu, ketiga lembaga tersebut juga rutin mengadakan diskusi dengan berbagai kelompok dan organisasi di Belanda dan Indonesia.

Titimangsa

Program Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia, 1945-1950 berlangsung hingga 1 September 2021. Hasil-hasil dan temuan penelitian ini beserta subprogram yang menginduk padanya akan diterbitkan dalam sebuah buku komprehensif dan dalam sejumlah koleksi dan monograf. Sebagian akan diterbikan dalam dua atau tiga bahasa (Belanda, Inggris, dan Indonesia). Para peneliti Indonesia akan menerbitkan karya mereka sendiri serta artikel yang ditulis bersama dengan peneliti dari Belanda.

Jika Anda memiliki pertanyaan atau komentar mengenai program penelitian ini, silakan kirim email ke info@ind45-50.nl. Jawaban atas beragam pertanyaan yang umum diajukan dapat dilihat di sini.

 

 

 

Britse tanks patrouilleren in de straten van Batavia. Op de tram onafhankelijkheidsleuzen. (Opname: 29-10-1945) BeeldbankWO2/NIOD
BeeldbankWO2/NIOD